Mengupas Eurofighter Typhoon, Salah Satu Kebohongan Dwi Hartanto

Jakarta Beberapa hari terakhir, publik Tanah Air dihebohkan dengan kebohongan yang terungkap dari salah seorang ilmuwan Indonesia bernama Dwi Hartanto. Sebelumnya, ia sempat mengatakan telah mengikuti kompetisi kerdigantaraan bergengsi di Jerman pada Juni 2017.

Pada saat itu, ia mengaku berhasil memenangi kontes yang diikuti oleh ESA (Eropa), NASA (AS), DLR (Jerman), ESTEC (Belanda), JAXA (Jepang), UKSA (Inggris), CSA (Kanada), KARI (Korea), AEB (Brazil), INTA (Spanyol), dan negaranegara maju lainnya.

Ia menang setelah mengusung riset berjudul Lethal weapon in the sky. Dwi menuturkan, dirinya bersama tim juga diminta untuk membantu mengembangkan pesawat tempur EuroTyphoon di Airbus Space and Defence menjadi EuroTyphoon NG (Next Generation).

Generasi terbaru ini diklaim memiliki kemampuan tempur lebih canggih dari generasi sebelumnya. Namun seluruh informasi tersebut ternyata hanyalah kebohongan.

Kendati demikian, tak ada salahnya sedikit mengupas soal pesawat tempur hasil kerja sama empat negara dari benua Eropa (Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol) ini. Selain itu, bergabung pula sejumlah perusahaan dirgantara kenamaan dari masingmasing negara.

Eurofighter Typhoon dikenal sebagai salah satu pesawat dengan tipe swingrole generasi terbaru untuk pertarungan di udara dan terbilang sukses menarik perhatian sejumlah negara untuk memakainya.