Mengekor Minyak, Harga Batu Bara Ikut Menguat

Pergerakan harga batu bara berhasil menguat pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, sejalan dengan penguatan harga minyak mentah.

Pada perdagangan Senin (22/1/2018), harga batu bara untuk kontrak Januari 2019, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup menguat 0,51% atau 0,45 poin di US$88,45/metrik ton.

Harga batu bara kontrak Januari 2019 menguat untuk hari kedua berturut-turut setelah pada perdagangan Jumat (19/1/2018), membukukan rebound 0,46% atau 0,40 poin di level 88.

Sejalan dengan batu hitam, harga minyak mentah ditutup menguat setelah Arab Saudi dan Rusia mengisyaratkan pemangkasan produksi dapat diperpanjang hingga 2019.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari, yang berakhir Senin, ditutup menguat 0,2% atau 0,12 poin di level US$63,49 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan sekitar 13% di bawah rata-rata 100 hari. Adapun kontrak Maret berakhir menguat 0,26 poin di US$63,57.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Maret berakhir menguat 0,42 poin di level US$69,03 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Dilansir Bloomberg, Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih mengatakan produsen harus tetap membatasi output sepanjang tahun ini dan mungkin hingga 2019, sebelum persediaan dan permintaan mencapai keseimbangan.

Dalam wawancara yang sama, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan Rusia siap untuk memperpanjang kesepakatan dengan OPEC, bahkan setelah kesepakatan mereka berakhir pada akhir 2018.

Komentar tersebut muncul setelah minyak mentah berjangka mencatat penurunan mingguan pertama mereka dalam satu bulan, karena kekhawatiran harga yang lebih tinggi dapat memacu peningkatan aktivitas pengeboran minyak shale di AS.

“Mereka (Arab Saudi dan Rusia) menegaskan kembali apa yang telah kita ketahui. Namun, dengan OPEC terus mengelola pasokan dan menyeimbangkan pasar jangka panjang, hal tersebut merupakan sentimen positif,” kata Michael Loewen, analis komoditas di Scotiabank, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, di AS, cadangan minyak mentah diperkirakan menyusut 2,5 juta barel pekan lalu, menurut perkiraan median analis yang disurvei oleh Bloomberg. Angka ini akan menjadi penurunan 10 minggu berturut-turut di tengah pemeliharaan kilang yang biasanya berlangsung sampai Maret.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *