Mengapa Pasangan yang Telah Berpisah Bisa Rujuk Lagi?

Anda mungkin kenal dengan seseorang yang sering “putus-nyambung” dengan mantannya. Walau Anda gemas melihatnya, tetapi fakta menunjukkan bahwa fenomena “putus-nyambung” adalah hal yang biasa.

Pasangan fenomenal Justin Bieber dan Selena Gomez baru-baru ini membuktikannya. Setelah mengalami drama percintaan yang tragis, akhirnya pasangan ini kembali memutuskan untuk kembali bersama.

Sekitar 50 persen pasangan memang memilih untuk kembali ke pelukan mantan kekasih setelah putus. Salah satu penyebabnya adalah mereka memiliki dua perasaan sekaligus, benci sekaligus cinta. Di lain pihak, mereka juga memilih rujuk karena tidak yakin dengan keputusannya untuk berpisah.

“Putus” adalah masalah klasik dalam sebuah hubungan percintaan. Tidak ada kisah cinta yang hanya diwarnai oleh kebahagiaan dan romantisme.

Permasalahan yang datang silih berganti terkadang menjadi penyebab dua insan yang saling mencintai tidak bisa melanjutkan hubungannya. Tapi, bukan berarti sebuah hubungan yang telah ‘rusak’ tidak bisa diperbaiki.

Alasan lain memutuskan untuk kembali bersama karena mereka merasa yakin bahwa ada alasan untuk kembali bersama, setelah merasakan hidup berjauhan tanpa saling berkomunikasi.

Riset dari Kansas State University di tahun 2013 menemukan bahwa hampir separuh dari responden mengaku bersatu kembali karena merasa bahwa pasangan mereka telah berubah menjadi lebih baik, atau yakin akan lebih baik dalam berkomunikasi.

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science, para peneliti menanyakan kepada responden di Kanada alasan mereka tetap bertahan atau meninggalkan hubungan mereka.

Alasan populer untuk bertahan adalah karena mereka optimis-berharap pasangannya akan berubah, investasi emosional dalam hubungan, tugas keluarga, dan ketakutan akan ketidakpastian yang akan terjadi.

Sebanyak 66 persen orang mengatakan bahwa mereka ingin bertahan karena keintiman dan ketergantungan yang telah mereka kembangkan bersama pasangan mereka dari waktu ke waktu.

Di sisi lain, mereka yang ingin menyudahi hubungan dipicu oleh pengkhianatan, dan ketidakcocokan (sering bertengkar). Lebih dari 38 persen ingin menyudahi hubungannya karena ketidaksetiaan.

Terlepas dari semua hal negatif, 49 persen dari mereka yang mempertimbangkan untuk kembali dengan mantan kekasihnya karena merasa bingung dengan perasaanya sendiri.

Perpisahan seringkali lebih sulit dilakukan pada orang yang masih merasa ragu pada keputusannya untuk berpisah. Keraguan ini menjelaskan mengapa banyak pasangan yang memilih kembali bersama setelah berpisah.

Noelle Nelson seorang psikolog dan penulis buku psikologi percintaan mengatakan bahwa kembali bersama setelah perpisahan bukanlah hal yang buruk.

Ini bisa dilakukan selama tidak ada masalah serius, misalnya perilaku kasar dalam hubungan dan masing-masing pasangan saling memperhatikan.

“Kesempatan kedua pada sebuah hubungan yang sukses bisa berjalan. Komunikasi adalah fondasi,” kata Nelson.

Noelle Nelson menyarankan agar kita jujur dengan diri sendiri saat mempertimbangkan untuk kembali ke pelukan mantan.

“Periksa motif Anda untuk melakukannya. Jangan kembali bersama karena Anda kesepian, bosan atau takut tidak akan pernah menemukan orang lain,” katanya.

Jika Anda memiliki alasan yang tepat untuk kembali bersama, pastikan Anda telah mengajukan pertanyaan ini kepada diri sendiri sebelum kembali bersama dengan sang mantan. Gunakanlah pengalaman sebelumnya sebagai pelajaran.

Periksa kembali bahwa Anda tidak salah mengira perasaan sakit hati atau ketakutan menjadi lajang. Bertanggungjawablah pada keputusan awal Anda saat memutuskan hubungan tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *