Melulu di Ilmu, Lupa Hakikat dan Akibat

Kebanyakan saya diundang untuk berceramah, mengajar dan mengupas seputar penyakit, gaya hidup dan pola makan orang.

Begitu gregetnya orang haus akan kebenaran ilmu, rasa ingin tahu dan pastinya: jurus jitu keluar dari masalah kesehatan.

Tak jarang apa yang saya paparkan secara usil dibenturkan dengan perilaku kekinian dan konflik kepentingan yang katanya melumpuhkan industri pangan dan usaha kuliner kecilkecilan.

Anehnya, di sisi lain, para peserta seminar dan orangorang yang mengikuti paparan saya juga mengamini, bahwa makin hari dagangan yang disebut makanan itu makin meningkatkan risiko timbulnya penyakit ketimbang sekadar mengenyangkan perut.

Racikan yang semakin jauh dari bentuk aslinya di alam, bahkan tidak pernah terdapat di alam, menjadi bahan dasar pemicu kenikmatan lidah.

Mungkin amat jarang orang Indonesia yang paham misalnya, bahwa keju yang bertaburan di atas pizza atau dijejali sebagai isian roti, bahkan meleleh bagai saus di atas mi dan ayam goreng sebagai kudapan anti mainstream ternyata….bukan keju sungguhan. Pantas dijual murah dan rasanya pas di lidah Indonesia.

Keju imitasi atau analog diamdiam membanjiri pasar dengan promosi berlebihan di negeri kita. Sementara, di Amerika Serikat pada tahun 1992 ocehan omong kosong produsen keju itu sudah dibungkam oleh Federal Trade Commission.

Berandaiandai keju yang dikonsumsi adalah protein asli kasein susu yang dikultur oleh enzim dan bakteri sehat, membuat begitu banyak konsumen keju di negeri ini termakan pepesan kosong.

Ilustrasi di atas hanya sebagian kecil contoh akibat ilmu pangan hanya diutakatik sebatas ilmu saja, asyik berkutat di epistemologi.

Sama seperti untuk diversifikasi pangan katanya, agar cocok dengan lidah zaman sekarang tapi tidak mengkhianati produk sendiri, tempe dipaksakan jadi nugget. Donat terbuat dari singkong. Sisi asal usul, hakikat, ontologi kebaikan tempe dan singkong tidak lagi penting.

Bahwa singkong sehat yang dimakan, cukup setelah dikukus dengan teman makan lauk lainnya, menjadi amburadul bahkan menjadi petaka saat minyak goreng mulai melumuri singkong lumat berbentuk donat yang pastinya diberi gula rafinasi dan campuran lainnya.

Ke depannya, generasi pecinta nugget dan donat pun tetap menuai masalah kegemukan dan sindroma metabolik karena aspek aksiologis, yaitu baikburuk benarsalahnya suatu temuan, ilmu atau teknologi tidak dipikirkan apalagi dikaji secara bijak.

Seperti lelehan keju imitasi, coklat sarat gula, dan seribu satu panganan yang seratus tahun yang lalu saja tidak ada.

Padahal, sel hingga DNA manusia tidak ada sedikit pun yang berubah dibanding leluhurnya sekian ribu tahun yang lalu.