Israel Tuduh Warga Palestina Jadi Mata-mata Iran

Pengadilan militer Israel menuduh tiga warga Palestina merencanakan serangan ‘teroris’ atas nama Iran. Tiga orang tersebut ditangkap oleh agen dari badan keamanan bersama militer Israel di tepi barat Kota Hebron. Hal itu disampikan oleh badan keamanan Israel, Shin Bet.

Militer Israel menyebut, pemimpin kelompok mata-mata Iran tersebut bernama Mahmud Makharmeh (29) seorang mahasiswa teknik komputer. Sedangkan dua orang lainnya bernama Nur Makharmeh (22) dan Diaa Sarakhneh (22) yang diketahui sebagai kaki tangan Mahmud. Saat ini ketiganya dituntut di sebuah pengadilan militer Israel.

Sebuah pernyataan yang dilansir AFP, Kamis (4/1/2018) menyebut, kelompok tersebut dijalankan oleh badan intelejen Iran yang berada di Afrika Selatan. Pernyataan tersebut juga menuturkan, Iran telah menggunakan Afrika sebagai pusat pergerakan untuk perekrutan serta pengoperasian agen untuk melawan Israel.

“(Kelompok tersebut) dijalankan oleh intelejen Iran dan direkrut serta didanai oleh badan intelejen Iran yang tinggal di Afrika Selatan. Telah diketahui bahwa intelijen Iran telah menggunakan Afrika Selatan sebagai pusat penting untuk menemukan, merekrut dan mengoperasikan agen melawan Israel,” kata pernyataan tersebut.

Shin menyatakan pihaknya beberapa kali bertemu dengan agen Iran saat dirinya berada di Afrika Selatan. Beberapa diantaranya berasal dari Teheran hanya untuk bertemu dengan dirinya. Dia mengaku diperintahkan untuk merekrut pembunuh dan orang bersenjata untuk mengumpulkan dan menyampaikan informasi kepada agen Irannya. Mahmud mengaku diberi upah $8,000.

Mahmud Makharmeh didakwa karena melakukan kontak dengan organisasi asing yang bermusuhan, menerima dana musuh dan mencoba bergabung dengan organisasi ilegal. Sedangkan dua lainnya didakwa karena mencoba bergabung dengan organisasi ilegal.

Israel menyebutkan, selain mendukung Hamas, Jihad Islam, dan Hizbullah Syiah di Libanon, Iran memang didedikasikan untuk menghancurkan dan mendukung teror global. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menduga bahwa kelompok tersebut merupakan upaya terakhir Iran untuk menyerang Israel.

“Ini bukan yang pertama kalinya. Mereka mencoba berbagai metode dan berbagai bidang untuk menyerang negara Israel,” seperti yang tertulis dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya, pada tahun 2015 pengadilan Israel menghukum seorang warga Belgia kelahiran Iran. Wanita tersebut dipenjara selama tujuh tahun setelah menjadi mata-mata Iran dengan menyamar sebagai pengusaha. Dia dihukum karena telah membantu musuh selama perang dan menjadi mata-mata atas nama Garda Republikan elite Iran.

Akademisi Iran Ahmadreza Djalali-pun bernasib sama dengan wanita tersebut. Djalali saat ini menghadapi eksekusi di Teheran setelah divonis pada bulan Oktober atas tuduhan memata-matai Israel. Djalali mengatakan bahwa dirinya dihukum karena menolak memata-matai Iran saat dia bekerja di Eropa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *