Harga Minyak Menguat, Batu Bara Melemah 0,27%

Harga batu bara ditutup berbalik melemah pada perdagangan kemarin, Rabu (3/1/2018), di saat harga minyak AS melonjak mendekati level US$62.

Pada perdagangan Rabu, harga batu bara untuk kontrak April 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup melemah 0,27% atau 0,25 poin ke level US$91,55 per metrik ton.

Adapun pada sesi perdagangan sebelumnya, Selasa (2/1), harga batu bara kontrak Februari 2018 berakhir menguat 0,66% atau 0,60 poin ke level US$91,80.

Berbanding terbalik dengan harga batu bara, minyak mentah menguat mendekati level US$62 per barel untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari berakhir menguat US$1,26 di US$61,63 per barel di New York Mercantile Exchange, level penutupan tertinggi sejak Desember 2014.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Maret ditutup menguat US$1,27 di US$67,84 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Lonjakan harga minyak WTI menunjukkan persis apa yang pakar minyak sampaikan dalam survei Dallas Federal Reserve bulan lalu. Disebutkan bahwa untuk terjadinya lebih banyak eksplorasi minyak shale, maka harga harus di atas US$61.

Menurut survei tersebut, jika harga minyak mentah terus naik dan melampaui US$66, lebih banyak pemimpin perusahaan yang mengindikasikan siap untuk masuk ke industri tersebut.

Dalam survei terhadap lebih dari 100 eksekutif industri minyak di Texas, New Mexico, dan Louisiana, Dallas Fed menemukan 42% di antaranya akan memperluas pengeboran dengan harga minyak di kisaran US$61-US$65. Survei itu juga menemukan bahwa 31% akan meningkatkan investasi saat harga di atas US$66.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *