George Soros Sebut Facebook dan Google Sebagai Ancaman

Salah satu investor tersukses dunia George Soros mengkritik keberadaan Facebook dan Google. Dua raksasa teknologi ini dinilai memiliki perilaku ‘monopoli’ yang telah menjadikannya ‘ancaman’ bagi masyarakat.

Tak hanya itu, Facebook dan Google juga disebut telah merusak demokrasi serta mendorong ‘kecanduan’, serupa dengan perusahaan perjudian.

Di depan peserta World Economic Forum di Davos, Swiss, miliarder asal Hungaria tersebut mengatakan perusahaan media sosial mempengaruhi cara orang berpikir dan berperilaku tanpa mereka menyadarinya.

“Mereka memiliki konsekuensi merugikan yang jauh dari fungsi demokrasi, terutama pada integritas pemilihan,” ujar Soros, seperti dikutip dari Business Insider, Jumat (26/1/2018).

Kebesaran Facebook dan Google dianggap telah menjadi ‘hambatan bagi inovasi’. Soros pun menyerukan pengawasan peraturan yang lebih ketat terhadap kedua perusahaan tersebut. Menurutnya, Komisaris Persaingan Uni Eropa, Margrethe Vestager, merupakan figur yang patut dicontoh oleh regulator lain dalam hal ini.

“Fakta bahwa mereka nyaris merupakan distributor monopoli membuat mereka utilitas publik dan harus tunduk pada peraturan yang lebih ketat. Peraturan itu bertujuan untuk menjaga persaingan, inovasi, serta akses universal yang adil dan terbuka,” kata Soros.

Ancam Konsep Kebebasan Berpikir

Soros juga mengkritik efek kedua perusahaan itu terhadap pikiran masyarakat. Facebook dan Google dituding mengecoh pengguna dengan memanipulasi perhatian mereka sertamengarahkannya untuk tujuan komersial mereka sendiri.

Menurutnya, baik Facebook dan Google sengaja merekayasa kecanduan terhadap layanan yang mereka berikan. Ini bisa sangat berbahaya, terutama bagi remaja.

“Ada kesamaan antara platform internet dan perusahaan perjudian. Kasino telah mengembangkan teknik untuk menghubungkan penjudi ke titik di mana mereka mempertaruhkan semua uang mereka, bahkan uang yang tidak mereka miliki,” tuturnya.

“Perusahaan media sosial mendorong orang untuk melepaskan kemandirian mereka. Kekuatan untuk membentuk perhatian orang semakin terkonsentrasi di tangan beberapa perusahaan. Ini mengancam konsep ‘kebebasan berpikir’,” lanjut Soros.

Dalam bagian lain pidatonya, Soros mencerca bahaya nasionalisme dan meningkatnya ancaman terhadap demokrasi. Dia berpendapat bahwa kekuatan dan kemampuan teknis perusahaan teknologi berarti risiko terhadap hal ini dan merongrong liberalisme.

“Mungkin ada aliansi antara negara-negara otoriter dan monopoli TI yang besar dan kaya data ini. Aliansi tersebut akan mempertemukan sistem pengawasan perusahaan yang baru lahir dengan sistem pengawasan oleh negara yang sudah dikembangkan,” katanya.

“Ini bisa menghasilkan jaringan kontrol totaliter yang tidak bisa dibayangkan oleh Aldous Huxley atau George Orwell sekalipun,” tambahnya, merujuk pada dua penulis ternama asal Inggris tersebut.

Soros juga menarik garis antara pertumbuhan kekayaan perusahaan teknologi dan meningkatnya ketidaksetaraan. Ia berargumen bahwa keuntungan Facebook dan Google sebagian besar merupakan fungsi dari penghindaran tanggung jawab mereka untuk – serta menghindari membayar – konten di platform mereka.

“Pemilik raksasa platform menganggap diri mereka sebagai tuan dari alam semesta, namun kenyataannya, mereka adalah budak untuk mempertahankan posisi dominan mereka,” katanya.

“Hanya masalah waktu sebelum dominasi global monopoli TI AS terpecah. Davos adalah tempat yang baik untuk mengumumkan bahwa masa-masa mereka akan berakhir. Peraturan dan perpajakan akan menjadi kehancuran mereka, dan Komisaris Persaingan UE Vestager akan menjadi nemesis mereka,” pungkas Soros.

Perwakilan Facebook tidak bersedia mengomentari pernyataan Soros, sedangkan perwakilan Google belum memberikan tanggapannya.

Berikut ini merupakan kutipan dari pidato Soros:

Saya ingin menghabiskan sebagian besar waktu saya yang tersisa untuk masalah global lainnya: monopoli perusahaan TI raksasa. Perusahaan-perusahaan ini sering memainkan peran inovatif. Tapi karena Facebook dan Google telah berkembang menjadi entitas monopoli yang lebih kuat, mereka menjadi hambatan bagi inovasi, dan hal tersebut telah menyebabkan berbagai masalah yang sekarang mulai kita sadari.

Perusahaan memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan lingkungannya. Perusahaan pertambangan dan minyak mengeksploitasi lingkungan fisik; perusahaan media sosial mengeksploitasi lingkungan sosial. Ini sangat jahat karena perusahaan media sosial mempengaruhi cara orang berpikir dan berperilaku tanpa mereka menyadarinya. Ini memiliki dampak buruk yang jauh pada fungsi demokrasi, terutama pada integritas pemilihan.

Fitur yang membedakan perusahaan platform internet adalah mereka merupakan jaringan dan menikmati kenaikan marjinal; yang berkontribusi pada pertumbuhan fenomenal perusahaan-perusahaan tersebut. Efek jaringannya benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya, namun juga tidak berkelanjutan. Facebook butuh 8,5 tahun untuk mencapai satu miliar pengguna dan setengahnya untuk mencapai dua miliar. Pada tingkat ini, Facebook akan kehabisan pengguna barur dalam dalam waktu kurang dari tiga tahun.

Facebook dan Google secara efektif mengendalikan lebih dari separuh pendapatan iklan di internet. Untuk mempertahankan dominasinya, mereka perlu memperluas jaringan mereka dan meningkatkan bagian perhatian pengguna mereka. Saat ini, mereka melakukan ini dengan menyediakan platform yang nyaman. Semakin banyak pengguna menghabiskan waktu di platform-nya, semakin berharga mereka bagi perusahaan.

Penyedia konten juga berkontribusi terhadap profitabilitas perusahaan media sosial karena mereka tidak dapat menghindari penggunaan platform dan mereka harus menerima persyaratan apa pun yang ditawarkan.

Model bisnis perusahaan media sosial didasarkan pada iklan. Pelanggan sejati mereka adalah pengiklan. Namun secara bertahap, model bisnis baru muncul, mereka berekspansi pada penjualan produk dan layanan secara langsung kepada pengguna. Mereka memanfaatkan data yang mereka kontrol, mengemas layanan yang mereka tawarkan, dan menggunakan penetapan harga yang diskriminatif untuk menawarkan manfaat lebih. Hal ini meningkatkan profitabilitas mereka, namun bundling layanan dan penetapan harga yang diskriminatif merusak efisiensi ekonomi pasar.

Perusahaan media sosial menipu pengguna mereka dengan memanipulasi perhatian mereka dan mengarahkannya ke tujuan komersial mereka sendiri. Mereka dengan sengaja menciptakan kecanduan terhadap layanan yang mereka berikan. Ini bisa sangat berbahaya, terutama bagi remaja.

Sesuatu yang sangat berbahaya dan mungkin tidak dapat diubah sedang terjadi pada perhatian manusia di era digital kita. Bukan hanya gangguan atau kecanduan, perusahaan media sosial juga mendorong orang untuk melepaskan otonomi mereka.

Kekuatan untuk membentuk perhatian orang semakin terkonsentrasi di tangan beberapa perusahaan. Dibutuhkan upaya nyata untuk menegaskan dan membela apa yang oleh John Stuart Mill disebut sebagai “kebebasan berpikir.” Ada kemungkinan bahwa sekali kebebasan berpikir hilang, orang yang tumbuh di era digital akan mengalami kesulitan dalam mendapatkannya kembali. Orang tanpa kebebasan berpikir dapat mudah dimanipulasi. Bahaya ini tidak hanya akan muncul di masa depan, ini telah memainkan peran penting dalam pemilihan presiden AS di 2016 silam.

Tapi ada prospek yang lebih mengkhawatirkan. Mungkin ada kerjasama antara negara-negara otoriter dan perusahaan monopoli TI yang besar dan kaya data ini yang akan mempertemukan sistem pengawasan perusahaan dengan sistem pengawasan milik. Ini bisa menghasilkan jaringan kontrol totaliter yang tidak bisa dibayangkan.

Ini hanya masalah waktu sebelum dominasi global monopoli TI AS terpecah. Davos adalah tempat yang baik untuk mengumumkan bahwa masa-masa mereka akan berakhir. Peraturan dan perpajakan akan menjadi kehancuran mereka, dan Komisaris Penyelesaian Persaingan UE akan menjadi musuh mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *