Faktor-faktor Ini Tekan Pergerakan Bursa Asia

Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Senin (5/2/2018) di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali menekan obligasi, menggulingkan Wall Street dari rekor tertinggi, serta memicu spekulasi bahwa bank sentral global mungkin lebih agresif melakukan pengetatan kebijakan.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terpantau melemah 0,8%, melanjukan pelemahan tiga hari berturut-turut. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang melemah 2,2% dan indeks S&P ASX/200 Australia turun 1,3%.

Dilansir Reuters, investor mengkhawatirkan dengan data non-farm payroll AS pada hari Jumat (2/2) yang menunjukkan upah tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari 8,5 tahun terakhir dan memicu ekspektasi inflasi.

Pasar berjangka bereaksi dengan harga memperkirakan tiga atau bahkan lebih kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini.

“Data tersebut akan menambahkan bahan bakar pada perdebatan mengenai apakah the Fed berada di belakang kurva. Ini akan meningkatkan peluang titik median Fed bergeser hingga empat kali kenaikan suku Bungan di 2018,” ungkap analis makro Deutsche Bank, Alan Ruskin, seperti dikutip Reuters.

Hal ini akan menjadi sentiment negatif bagi pasar negara berkembang, kata Ruskin. Baik dolar Australia dan Selandia Baru turun tajam seiring dengan rilis data tenaga kerja, bersama dengan sejumlah mata uang Asia lainnya.

Data tersebut juga menekan obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi Treasury bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir sebesar 2,86%, telah melonjak hampir 7 basis poin pada hari Jumat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *