Bocah Rohingya Mengungsi ke Bangladesh dengan Dirigen Minyak

Orangtuanya pada akhirnya menyetujui Nabi pergi, dengan syarat ia tidak pergi sendirian. Bocah itu kemudian bergabung bersama 23 anak dan pemuda lainnya, untuk “berlayar” mengarungi sungai pada 3 November. Keluarga dan kerabat turut mengiringi keberangkatannya.

“Tolong ingat aku dalam doadoamu,” seru sang ibu melepas kepergian Nabi.

Rombongan tadi lalu pergi dengan menggunakan dirigen minyak sebagai “kendaraan” utamanya. Benda tadi mereka ikatkan di dada, yang berfungsi sebagai pelampung.

Sebanyak 23 orang tadi lalu dibagi lagi menjadi sebuah grup kecil, yang terdiri dari tiga orang yang masingmasing saling terikat dengan tali. Nabi yang masih kecil dan tak bisa berenang kemudian ditempatkan di tengah.

Selama dalam perjalanan, Nabi beberapa kali menelan air. Terkadang ia sengaja melakukannya demi menghilangkan rasa haus. Namun sering juga si anak harus terpaksa menelannya akibat ombak yang terlalu deras.

Kaki lecet serta asinnya air laut menjadi “teman seperjalanan” Nabi. Tapi ia terus menghadap ke depan, enggan berbalik menoleh.

Tepat setelah matahari terbenam, mereka berhasil tiba di Sah Porir Dwip dalam kondisi lelah, lapar, dan kehausan.

Nabi kini sendiri. Dirinya termasuk salah satu dari 40 ribu anak Rohingya yang hidup tanpa orang tua di Bangladesh. Ia selalu menghadap ke bawah ketika berbicara, dan senantiasa menggumamkan harapan terbesarnya:

“Aku ingin orang tuaku dan kedamaian.”